Menkes: Tak perlu takut skrining kanker sejak dini
Baca juga: Evaluasi risiko kanker payudara bisa dilakukan melalui usap bukal
Untuk menangani penyakit kanker, pihaknya telah menyiapkan 10.000 mesin USG yang telah didistribusikan ke 534 fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Koalisi Kanker WCC APAC meluncurkan laporan mengenai investasi pencegahan kanker pada wanita di Asia-Pasifik, beserta dampak dan peluang yang dapat diperoleh untuk masa depan penanganan kanker yang lebih baik.
Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), di Indonesia angka kejadian kanker payudara diperkirakan meningkat sebesar 25,9 persen antara tahun 2020-2030, dengan angka kematian sebesar 29,4 persen. Selain itu, angka kejadian kanker serviks diperkirakan meningkat sebesar 25,8 persen dan angka kematian sebesar 33,9 persen pada periode yang sama.
“Laporan ini mengkaji kesenjangan kesiapan menghadapi kanker yang menyerang perempuan di tingkat nasional. Indonesia memiliki skor mulai dari rendah hingga sedang dalam lima kategori penilaian,” kata Associate Director Crowell and Moring International (salah satu organisasi pendiri organisasi tersebut). WCC APAC) Omair Azam.
Omair menjelaskan, dari lima kategori penilaian, ruang perbaikan yang diperlukan ada pada kategori terkait kebijakan dan perencanaan, pencegahan dan screening, serta diagnostik, dan kapasitas sumber daya.
“Kita dapat mengatasi kesenjangan ini dan melakukan perbaikan dengan mengambil pendekatan kolaboratif dari seluruh ekosistem layanan kesehatan. Hal ini diharapkan dapat membantu dan melindungi lebih banyak perempuan dari ancaman kanker di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Baca juga: Menkes: USG di Puskesmas Bisa Deteksi Kanker Payudara dan Kanker Hati
Reporter: Lintang Budiyanti Prameswari
Redaktur: Risbiani Fardaniah
HAK CIPTA © ANTARA 2023
