NEWS

Menkes: Tak perlu takut skrining kanker sejak dini

Menkes: Tak perlu takut skrining kanker sejak dini

Mereka takut nanti kalau tesnya ternyata positif, bagaimana? Padahal fasilitasnya sudah kami sediakan dan bisa diakses secara gratis

Jakarta (ANTARA) – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan masyarakat tidak perlu takut untuk menjalani pemeriksaan kanker sejak dini agar hidup lebih sehat dan berkualitas.“Permasalahan yang paling sering ditemui masyarakat ketika berbicara tentang kanker adalah stigma dan sosial budaya. Mereka takut kalau hasil tesnya positif, apa jadinya? Padahal kami sudah menyediakan fasilitasnya dan bisa diakses secara gratis,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu.

Menkes Budi menghadiri acara Penguatan Strategi dan Implementasi Penanggulangan Kanker Payudara dan Serviks di Indonesia yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Women’s Cancer Coalition (APAC WCC) dan United Nations Populations Fund (UNFPA).

Menkes menyatakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat ini fokus menggencarkan sosialisasi deteksi dini dan pengobatan kanker payudara dan serviks pada wanita serta kanker paru pada pria.

“Kita perlu mengedukasi masyarakat, kalau ingin panjang umur dan terhindar dari penyakit kanker sebenarnya gratis dan mudah, asalkan mau datang ke fasilitas kesehatan untuk skrining dan deteksi dini,” kata Menkes Budi Gunadi. .

Baca juga: Menkes: Kanker punya peluang 90 persen sembuh jika diketahui sejak dini

Selain itu, Menkes menekankan pentingnya pola hidup sehat dan konsumsi antioksidan untuk melindungi diri dari berbagai penyakit, termasuk kanker. Rajin minum jahe misalnya atau berolahraga untuk menciptakan antioksidan dalam tubuh, ujarnya.

Saat ini, Menkes menargetkan sebanyak 80 persen pasien kanker bisa menjalani deteksi dini untuk mendapatkan pengobatan yang lebih cepat dan tepat.

“Kami pastikan selama dua tahun terakhir Kemenkes cukup memberikan perhatian terhadap penyakit kanker serviks dan kanker payudara, kami selalu menggalakkan pentingnya Awareness (Periksa payudara sendiri),” kata Menkes.

Ia juga mengatakan Kementerian Kesehatan sedang aktif melatih para dokter hingga tingkat Puskesmas untuk menggunakan teknologi USG untuk mendeteksi kanker secara dini.

“USG tidak hanya bisa digunakan untuk mendeteksi bayi, tapi juga bisa digunakan untuk mengobati kanker payudara. Untuk itu, kami melatih para dokter dan dokter umum agar bisa menggunakan teknologi ini secara efektif,” kata Menkes.

Baca juga: Evaluasi risiko kanker payudara bisa dilakukan melalui usap bukal

Untuk menangani penyakit kanker, pihaknya telah menyiapkan 10.000 mesin USG yang telah didistribusikan ke 534 fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Koalisi Kanker WCC APAC meluncurkan laporan mengenai investasi pencegahan kanker pada wanita di Asia-Pasifik, beserta dampak dan peluang yang dapat diperoleh untuk masa depan penanganan kanker yang lebih baik.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), di Indonesia angka kejadian kanker payudara diperkirakan meningkat sebesar 25,9 persen antara tahun 2020-2030, dengan angka kematian sebesar 29,4 persen. Selain itu, angka kejadian kanker serviks diperkirakan meningkat sebesar 25,8 persen dan angka kematian sebesar 33,9 persen pada periode yang sama.

“Laporan ini mengkaji kesenjangan kesiapan menghadapi kanker yang menyerang perempuan di tingkat nasional. Indonesia memiliki skor mulai dari rendah hingga sedang dalam lima kategori penilaian,” kata Associate Director Crowell and Moring International (salah satu organisasi pendiri organisasi tersebut). WCC APAC) Omair Azam.

Omair menjelaskan, dari lima kategori penilaian, ruang perbaikan yang diperlukan ada pada kategori terkait kebijakan dan perencanaan, pencegahan dan screening, serta diagnostik, dan kapasitas sumber daya.

“Kita dapat mengatasi kesenjangan ini dan melakukan perbaikan dengan mengambil pendekatan kolaboratif dari seluruh ekosistem layanan kesehatan. Hal ini diharapkan dapat membantu dan melindungi lebih banyak perempuan dari ancaman kanker di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Baca juga: Menkes: USG di Puskesmas Bisa Deteksi Kanker Payudara dan Kanker Hati

Reporter: Lintang Budiyanti Prameswari
Redaktur: Risbiani Fardaniah
HAK CIPTA © ANTARA 2023

Exit mobile version