Isu perempuan Indonesia dibahas di Universitas Waseda, Jepang
Sementara itu, Direktur Program Rumah Buku Nur Hayati Aida membahas permasalahan pernikahan anak yang masih banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini bukan hanya satu faktor dan perekonomian bukan lagi satu-satunya faktor yang mempengaruhi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena kawin kontrak atau nikah mut’ah yang tidak sesuai dengan mazhab yang dianut umat Islam Indonesia pada umumnya.
Dalam kesempatan yang sama, Profesor Iguchi Yufu dari Ritsumeikan Asia Pacific University mengaku baru pertama kali mempelajari feminisme dalam Islam, khususnya di Indonesia.
“Saya suka bagaimana kaitannya dengan penafsiran Al-Quran tentang perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara lain,” kata Iguchi.
Ia berharap kedepannya akan semakin banyak perempuan yang terlibat dalam pengambilan kebijakan dan saat ini gerakan tersebut sudah ada.
Baca juga: Keterlibatan Perempuan Sebagai Pakar Politik di Pesta Demokrat
Baca juga: Komnas: Perjalanan politik perempuan Indonesia masih panjang
Baca juga: Aktivis Perempuan: Kekerasan berbasis gender meningkat selama pandemi
Wartawan : Juwita Trisna Rahayu
Redaksi : M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2024
