Arti Gen Z dalam Bahasa Gaul, Simak Kumpulan Kosakata Khas Generasi Ini
Perbesar
Generasi Milenial Tidak Menyadari Bahwa Masalah Kesehatan Tengah Mengintai Mereka Gara-gara Kebiasaan Buruk yang Mereka Kerjakan (Ilustrasi/iStockphoto)
10. Gamon
“Gamon” adalah istilah yang sering digunakan oleh Generasi Z untuk menggambarkan seseorang yang baru putus cinta namun belum bisa melupakan mantannya. Kata ini berasal dari singkatan “gagal move on” yang merujuk pada kondisi emosional seseorang yang sulit untuk melupakan kenangan dengan mantan pacar atau kekasih. Istilah ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari atau di media sosial untuk menggambarkan kondisi emosional seseorang yang sedang mengalami kesedihan akibat putus cinta.
Generasi Z sering menggunakan istilah “gamon” untuk memperjelas kondisi emosional seseorang yang sedang mengalami kesulitan untuk melupakan mantannya. Istilah ini menunjukkan bahwa proses pemulihan dari putus cinta tidak selalu mudah bagi sebagian orang, dan hal ini dapat menjadi topik yang banyak dibicarakan di kalangan Generasi Z. Dengan demikian, “gamon” menjadi salah satu istilah dalam bahasa gaul yang umum digunakan dalam lingkungan Generasi Z untuk menggambarkan situasi emosional yang terkait dengan putus cinta dan kesulitan melupakan mantan.
11. Salty
Salty adalah istilah yang sering digunakan oleh Generasi Z untuk menggambarkan perasaan kesal atau geram. Istilah ini banyak digunakan dalam konteks permainan daring atau percakapan di media sosial. Contoh penggunaannya adalah saat seseorang mengeluh tentang kekalahan dalam permainan video dan mengatakan “Aku benar-benar salty karena kalah terus!”
Saat ini, Generasi Z sering menggunakan istilah ini untuk mengekspresikan rasa frustrasi atau ketidakpuasan terhadap suatu hal. Terlebih lagi, penggunaan kata “salty” sering kali disertai dengan nada humor atau sarkasme. Hal ini menunjukkan bagaimana Generasi Z menggunakan bahasa gaul untuk menyampaikan perasaan mereka dengan cara yang kreatif dan unik.
12. E-boy or E-girl
E-boy dan E-girl adalah bagian dari subkultur Gen Z yang dikenal karena gaya pakaian mereka yang unik, rias wajah yang dramatis, dan gaya rambut yang mencolok. Para E-boy biasanya memakai pakaian yang terinspirasi dari estetika TikTok dan anime, seperti celana cargo, kaos oblong yang besar, dan aksesori seperti kalung chunky atau gelang snap. Sedangkan E-girl biasanya memakai pakaian yang lebih feminin, seperti rok mini tartan, kaos oversized, dan aksesori seperti choker atau stoking tebal. Rias wajah mereka biasanya melibatkan eyeliner yang tebal, warna-warna cerah, dan blush di atas hidung.
Mereka menggunakan internet secara aktif untuk mengekspresikan diri mereka melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter. Mereka sering kali mengunggah foto atau video yang menampilkan gaya pakaian, rias wajah, dan gaya rambut mereka sebagai bentuk ekspresi diri. Hal ini membedakan mereka dari subkultur lain seperti emo atau goth yang lebih fokus pada musik dan suasana hati yang lebih gelap. E-boy dan E-girl menggunakan media sosial untuk menciptakan identitas mereka sendiri dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam hal gaya dan ekspresi kreatif.
13. Cancel Culture
Cancel culture merupakan fenomena di mana seseorang atau sebuah kelompok secara massal membatalkan atau menolak mengakui karya atau sosok publik yang dianggap melakukan kesalahan atau tindakannya dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung. Fenomena ini semakin viral dengan adanya media sosial, di mana informasi cepat menyebar dan opini publik dapat dengan mudah bergabung dalam gerakan pembatalan ini.
Contoh kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa aktor Kim Seon-ho dan Johnny Depp, di mana keduanya menghadapi pembatalan secara massal dalam kariernya akibat dugaan tindakan tidak etis dan kontroversial.
Akar sejarah cancel culture sebenarnya telah ada sejak lama, namun media sosial memberikan percepatan dan intensitas yang lebih besar dalam fenomena ini. Kritik terhadap pembatalan dalam sejarah masyarakat telah dilakukan sejak lama, namun keberadaan media sosial membuat hal tersebut semakin terbuka dan dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Dengan adanya cancel culture, seseorang atau sebuah institusi dapat dengan cepat terkena dampak dari kesalahan atau tindakan kontroversial yang mereka lakukan, dan seringkali akibatnya dapat sangat merugikan bagi pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara bijak bagaimana menghadapi fenomena ini di tengah keberadaan media sosial yang begitu berpengaruh.
Perbesar
Yujin IVE adalah kecantikan lain yang sedang naik daun di generasi ke-4. Kulit mulusnya inilah yang membuat orang iri. [@_yujin_an]
14. Spill The Tea dan Sip Tea
“Spill The Tea” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat seseorang memberikan informasi atau gosip terbaru kepada orang lain. Istilah ini sering digunakan untuk mengungkapkan rahasia atau berbagi cerita menarik. Di sisi lain, “Sip Tea” digunakan untuk menunjukkan ketenangan dan menahan diri dalam situasi yang penuh dengan gosip atau keadaan yang memanas.
Contoh penggunaan “Spill The Tea” adalah saat seseorang memberikan gosip terbaru kepada teman-temannya, seperti “Dia benar-benar Spill The Tea tentang apa yang terjadi di pesta tadi malam.” Sedangkan contoh penggunaan “Sip Tea” adalah ketika seseorang ingin mengekspresikan ketenangan dan tidak ingin terlibat dalam gosip, seperti “Aku hanya duduk sini dan Sip Tea sambil melihat drama yang terjadi di sekelilingku.”
Dalam percakapan sehari-hari, perbedaan antara “Spill The Tea” dan “Sip Tea” adalah bahwa yang pertama digunakan untuk berbagi gosip atau cerita menarik, sementara yang kedua digunakan untuk menunjukkan sikap tenang dan merenung dalam situasi yang penuh dengan gosip atau drama.
15. Simp
“Simp” dalam bahasa gaul merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang terlalu mengagumi atau terlalu mengejar-ngejar pria atau wanita yang tidak tertarik padanya, dengan cara yang tampak kurang percaya diri atau terlalu memanjakan mereka. Asal usul kata “simp” sendiri pertama kali muncul di New York Times pada tahun 1923 dan juga muncul dalam lirik lagu rapper Too Short pada tahun 1985.
Sejak awal munculnya, istilah “simp” telah berkembang menjadi istilah yang sering digunakan dalam budaya pop dan media sosial, terutama oleh Generasi Z. Perkembangan tersebut membuat istilah “simp” semakin populer dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial. Meskipun awalnya memiliki konotasi negatif, kini istilah “simp” seringkali digunakan dengan cara yang lebih santai dan tidak terlalu serius, meski tetap memiliki arti yang sama.
Dengan perkembangan teknologi dan budaya pop, istilah “simp” telah menjadi bagian penting dari bahasa gaul Generasi Z dan terus digunakan dalam berbagai konteks. Keberadaan istilah ini secara konstan membuktikan bahwa budaya gaul selalu berubah dan berkembang seiring dengan waktu.
16. Hypebeast
Dalam konteks fesyen dan streetwear, istilah Hypebeast mengacu pada seseorang yang sangat antusias terhadap merek-merek terkenal dan kekinian, hingga pada tingkat fanatisme. Istilah ini pertama kali digunakan dalam budaya streetwear di Amerika Serikat pada awal tahun 2000-an, dan mulai populer di kalangan pemuda pada tahun-tahun berikutnya. Kevin Ma, pendiri situs web fesyen Hypebeast, dikenal karena mempopulerkan istilah ini dengan lebih luas.
Hypebeast biasanya gemar memakai barang-barang mahal dan eksklusif, seperti sepatu sneakers dari merek-merek ternama seperti Nike, Adidas, atau Supreme, tas dari merek high-end seperti Louis Vuitton, dan pakaian dengan logo merek yang sangat kentara. Mereka juga diketahui keras dalam mencari barang-barang terbatas dan kolaborasi-kolaborasi antara merek ternama, dan siap membayar harga yang sangat tinggi hanya untuk memperoleh barang-barang tersebut.
Dengan demikian, Hypebeast memainkan peran penting dalam perkembangan streetwear dan fesyen saat ini, di mana penggunaan istilah slang dan kegemaran terhadap barang-barang mahal telah menjadi bagian yang melekat dalam budaya pop.
17. High-key dan Low-key
Gen Z, juga dikenal sebagai generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, dikenal karena menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi. Salah satu istilah yang sering digunakan dalam bahasa gaul adalah “high-key” dan “low-key”. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa “high-key” digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan sangat jelas atau terang-terangan, sementara “low-key” digunakan untuk menyatakan sesuatu secara tidak terlalu jelas atau rahasia.
Contoh penggunaan “high-key” dalam kalimat adalah “Dia high-key suka kamu”, yang berarti bahwa seseorang secara terang-terangan menyukai orang lain. Contoh penggunaan “low-key” adalah “Aku low-key capek hari ini”, yang berarti seseorang merahasiakan bahwa mereka lelah.
Asal usul penggunaan istilah ini dalam budaya pop dapat ditelusuri kembali ke dunia hip-hop dan urban culture di Amerika Serikat. Istilah ini sering digunakan dalam lagu-lagu dan di media sosial untuk mengekspresikan perasaan atau pendapat seseorang secara ringkas dan catchy. Dari sini, istilah “high-key” dan “low-key” mulai populer di kalangan Gen Z dan terus digunakan dalam berbagai konteks komunikasi mereka.
18. Periodt
Kata ‘Periodt’ adalah salah satu istilah populer yang sering digunakan oleh Gen Z di media sosial. Kata ini berasal dari slang bahasa Inggris yang digunakan untuk menegaskan atau menguatkan sebuah poin pernyataan. Biasanya, kata ‘periodt’ digunakan sebagai pengganti kata ‘point’ di akhir kalimat untuk menunjukkan kebulatan dan intensitas dari pernyataan yang disampaikan.
Selain ‘periodt’, ada juga istilah-istilah lain yang sering digunakan oleh para Gen Z di media sosial, seperti ‘sksksk’, ‘stan’, ‘lmao’, ‘yeet’, dan banyak lagi. Istilah-istilah ini sering digunakan untuk mengekspresikan perasaan, menyindir, atau menunjukkan kekaguman terhadap sesuatu.
Kata ‘Gen Z’ sendiri merujuk kepada generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 dan dikenal sebagai generasi yang sangat mahir dalam menggunakan media sosial. Mereka sering menciptakan dan mengadopsi istilah-istilah baru yang kemudian menjadi populer di kalangan sesama Gen Z. Dengan intensitas penggunaan media sosial yang tinggi, istilah-istilah tersebut pun cepat menyebar dan menjadi bagian dari bahasa gaul mereka.
Dengan demikian, istilah-istilah populer yang digunakan oleh Gen Z di media sosial sangatlah beragam dan terus berkembang seiring dengan perubahan tren dan kebutuhan komunikasi mereka di dunia maya.
Karakteristik Gen Z
Perbesar
Ternyata gerakan zero waste telah dilakukan oleh Generasi Z dan Milenial, hasilnya telah dilakukan survei oleh Jakpat. (Foto: Unsplash.com/ Nik)Generasi Z, atau yang sering disebut sebagai Gen Z, merupakan generasi yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010. Mereka dikenal sebagai generasi yang sangat terampil dalam menggunakan teknologi, karena telah terbiasa dengan perkembangan digital sejak lahir. Selain itu, Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang sangat kreatif dan inovatif dalam mengekspresikan diri, baik melalui media sosial maupun dalam kegiatan kreatif lainnya.
Tidak hanya itu, Generasi Z juga dikenal sebagai generasi yang sangat toleran terhadap perbedaan dan keragaman. Mereka menerima dan menghormati segala bentuk perbedaan, mulai dari suku, agama, ras, dan orientasi seksual. Namun di sisi lain, Gen Z juga sering mengalami kecemasan yang tinggi, terutama mengenai ketakutan ketinggalan tren (FOMO). Mereka selalu ingin terhubung dengan informasi terbaru dan takut untuk merasa tertinggal.
Dengan karakteristik tersebut, Generasi Z memiliki pengaruh yang besar dalam budaya pop dan juga tren saat ini. Mereka membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat secara keseluruhan, sehingga perlu memperhatikan kebutuhan dan keinginan dari generasi ini.
