
“Tidak ada tempat yang aman di Jalur Gaza, dan wilayah selatan tidak dapat menampung semua orang yang dikepung,”
Kota Gaza (ANTARA) – Sekitar 900 ribu warga Palestina masih berada di Kota Gaza dan Jalur Gaza bagian utara, meski militer Israel terus melakukan pemboman udara dan artileri untuk memaksa mereka mengungsi ke selatan.“Meskipun pembantaian yang dilakukan oleh penjajah terkonsentrasi di Kota Gaza dan Gaza utara dan perang psikologis yang memaksa penduduk meninggalkan rumah mereka, pendudukan (Israel) tidak dapat mencapai tujuannya untuk menggusur orang,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Palestina Iyad. al-Buzm pada Selasa (7/11).
Daripada mengungsi ke arah selatan, kata dia, warga di kedua wilayah tersebut memilih mengungsi ke tempat penampungan atau rumah kerabat dan temannya.
Populasi Kota Gaza dan sekitarnya melebihi 1,1 juta dari total 2,2 juta warga Palestina. Semuanya menghadapi kondisi kehidupan yang memprihatinkan akibat blokade Israel yang berlangsung sejak tahun 2006.
“Jumlah pusat akomodasi di kota-kota di Jalur Gaza telah mencapai 225, dengan 97 di antaranya berada di Kota Gaza dan Gaza utara, menampung 311.000 pengungsi,” kata Al-Buzm.
Al-Buzm mengatakan pusat perlindungan di Kota Gaza dan Gaza utara berlokasi di 87 sekolah, sembilan rumah sakit dan satu gereja.
Namun, tempat-tempat di mana orang mencari perlindungan untuk menghindari pemboman Israel juga bisa menjadi sasaran serangan.
Mengenai kondisi kehidupan yang menantang di Gaza, Al-Buzm mengatakan semua toko roti tidak dapat beroperasi karena serangan langsung Israel.
Selain itu, kekurangan bahan bakar dan tepung juga berpotensi menimbulkan bencana yang serius.
“Masyarakat terpaksa meminum air yang terkontaminasi akibat blokade Israel yang memutus pasokan air ke Kota Gaza dan Gaza utara. “Tidak ada bantuan yang sampai ke warga di Kota Gaza dan Gaza utara selama 32 hari terakhir, dan tidak ada pasokan yang dikirim ke pusat penampungan atau daerah pemukiman,” kata Al-Buzm.
Ia kemudian mengatakan bahwa koridor aman yang digembar-gemborkan Israel hanyalah sebuah kebohongan, dan malah berubah menjadi koridor kematian karena kejahatan yang dilakukan penjajah di Gaza.
“Kami memperingatkan bahwa penjajah akan menggunakan pembantaian dan tekanan psikologis untuk memaksa masyarakat Kota Gaza dan Gaza utara meninggalkan rumah mereka. Ke mana mereka akan pergi?” tanya Al-Buzm.
“Tidak ada tempat yang aman di Jalur Gaza, dan wilayah selatan tidak dapat menampung semua orang yang dikepung,” tambahnya.
Israel melancarkan serangan udara dan darat ke Jalur Gaza, menyusul serangan lintas batas yang dilakukan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 7 Oktober 2023.
Setidaknya 10.328 warga Palestina, termasuk 4.237 anak-anak dan 2.719 wanita, tewas dalam pemboman Israel di Jalur Gaza.
Jumlah korban tewas di Israel hampir 1.600, menurut angka resmi.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Hamas Minta PBB Tekan Israel Segera Pulihkan Pasokan Air ke Gaza
Baca juga: Konvoi bantuan Palang Merah Internasional ke Kota Gaza Diserang
Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Arie Novarina
HAK CIPTA © ANTARA 2023
