Pada periode pemilu 1990-1999, partisipasi partai politik menjadi fokus utama dalam dinamika politik Indonesia. Pemilu tahun 1982, 1989, 1992, dan 1997 melibatkan tiga partai politik utama, yakni Golkar, PPP, dan PDI. Di antara empat pemilu tersebut, Golkar konsisten meraih suara terbanyak, menandai dominasinya di kancah politik saat itu.
Dalam Sidang Umum MPR, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak melalui pemungutan suara secara langsung, melainkan ditentukan berdasarkan hasil sidang. Pada periode tersebut, Presiden Soeharto terus terpilih kembali sehingga menjadikannya pemimpin yang memerintah selama 32 tahun. Meski posisi wakil presiden berganti, Soeharto tetap memegang kendali pemerintahan.
Perubahan signifikan terjadi pada tahun 1998, ketika krisis ekonomi dan gelombang demonstrasi berujung pada berakhirnya pemerintahan Soeharto. Tuntutan reformasi, termasuk percepatan pemilu yang semula dijadwalkan pada tahun 2002 hingga 1999, membuka babak baru dalam sejarah politik Indonesia.
Mendata IndonesiaBaik, pemilu 1999 menjadi momen penting karena melibatkan 48 partai politik peserta sehingga menunjukkan keberagaman warna politik. Partai-partai tersebut mencakup spektrum ideologi dan pandangan politik yang luas, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan masih banyak lainnya. .
Dari 48 parpol peserta, hanya 21 parpol yang berhasil meraih kursi di DPR. Partai PDI-P muncul sebagai peraih suara terbanyak, mengukuhkan Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden. Hasil ini menandai dimulainya era reformasi dan perubahan politik yang lebih inklusif di Indonesia.