Takbir Idul Fitri umumnya diucapkan setelah matahari terbenam pada hari terakhir puasa Ramadhan. Menurut situs resmi Nahdlatul Ulama Indonesia, takbir ini berlangsung sejak magrib menjelang hari raya hingga waktu salat Idul Fitri.
Berapa hari? Tidak ada ketentuan yang mengatur secara spesifik berapa hari takbir Idul Fitri harus diucapkan. Dalam praktiknya, takbir ini umumnya diucapkan sejak malam menjelang hari raya, yakni sejak terbenamnya matahari pada malam hari terakhir puasa Ramadhan.
Pada saat ini, takbir Idul Fitri dapat diucapkan kapan saja dalam waktu yang telah ditentukan, baik di rumah, di jalan, maupun di pasar, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Alauddin Za’tari dalam bukunya yang berjudul Fiqh Al-‘ ibadah; Ilmiyyan ‘Ala Madzhabi Al-Imam Asy-Syafi’i.
Takbir Idul Fitri merupakan sunnah bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, musafir maupun mukim, sebagaimana pendapat Muhammad bin Qasim Al-Ghazi, masih dikutip dari sumber yang sama. Takbir ini juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan suara keras maupun merendahkan suara tergantung situasi dan kondisi sekitar.
Bagi laki-laki dianjurkan mengucapkan takbir dengan suara keras, sedangkan perempuan dianjurkan merendahkan suara, terutama di sekitar laki-laki yang bukan mahramnya. Bacaan takbir Idul Fitri yang umumnya dibacakan adalah “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaha illa Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi al-hamd.”
Takbir Idul Fitri atau disebut takbir mursal merupakan salah satu bagian penting dalam perayaan Idul Fitri. Kesimpulannya, takbir Idul Fitri tidak mengatur secara spesifik berapa hari harus diucapkan. Meski demikian, umat Islam diimbau untuk memperbanyak bacaan takbir Idul Fitri sebagai wujud ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT selama hari raya.