NEWS

Apakah kerajaan Hindu tertua di Indonesia termasuk kerajaan? Berikut 6 daftarnya

Apakah kerajaan Hindu tertua di Indonesia termasuk kerajaan?  Berikut 6 daftarnya


Berdasarkan buku “Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa” (2019) karya Danik Isnaini, sejarah Kerajaan Singasari mencakup jangka waktu yang cukup panjang yaitu 100 tahun sejak didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 Masehi. Beberapa sumber sejarah mengenai asal usul Kerajaan Singasari dapat ditemukan pada Kitab Pararaton, Kitab Negarakertagama, serta prasasti-prasasti yang ditinggalkan. Dari rangkuman sejarah tersebut kita dapat memahami perkembangan Kerajaan Singasari. Kitab Pararaton misalnya merinci bahwa Tumapel awalnya merupakan wilayah bawahan Kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kadiri. Saat itu Tumapel dipimpin oleh ANGKAL Ametung sebagai akuwu (setara dengan camat). Namun ANGKAL Ametung dibunuh oleh pengawalnya sendiri, Ken Arok, yang kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Tumapel pertama dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

Ken Arok kemudian menikah dengan janda ANGKAL Ametung, Ken Dedes yang sedang mengandung anaknya. Anak Ken Dedes dari pernikahan sebelumnya diberi nama Anusapati. Selain itu, Ken Arok mempunyai istri lain bernama Ken Umang yang melahirkan seorang anak laki-laki bernama Tohjaya. Ken Arok berkuasa dan berencana melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri.

Pada tahun 1221 terjadi perselisihan antara Kertajaya, raja Kerajaan Kadiri, dan kaum Brahmana. Para Brahmana bergabung dengan Ken Arok dan terjadilah perang melawan Kediri di Desa Genter pada tahun 1222 yang dimenangkan oleh Tumapel. Pada masa pemerintahan raja terakhir Kerajaan Singasari yaitu Kertanegara (1272-1292 M), kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya. Kertanegara dikenal sebagai pemimpin yang cerdas dalam bidang politik dan agama. Ia mempunyai pengetahuan yang luas tentang ketatanegaraan, alam, ilmu pengetahuan, bahasa, dan taat pada kaidah agama.

6. Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri atau dikenal dengan Panjalu mempunyai pusat pemerintahan di Daha, sebagaimana tercatat dalam kitab Negarakertagama. Cerita bermula dari Raja Airlangga yang mempunyai dua orang anak yang sangat ingin mewarisi kekuasaannya sehingga menimbulkan persaingan bahkan perang saudara. Pada tahun 1041, Raja Airlangga memutuskan untuk membagi wilayah kekuasaannya menjadi dua, yaitu Kerajaan Panjalu atau Kediri di sebelah barat, dan Kerajaan Jenggala atau Kahuripan di sebelah timur. Batasnya adalah Gunung Kawi dan sungai Brantas. Sri Samarawijaya memimpin Kerajaan Panjalu di barat, sedangkan Mapanji memimpin Kerajaan Jenggala di timur.

Meski wilayah sudah terbagi, kedua putra Raja Airlangga tetap merasa tidak puas sehingga memicu konflik selama kurang lebih 60 tahun. Perang antara Panjalu dan Jenggala terus berlanjut hingga akhirnya Jenggala memenangkan perang saudara tersebut dan merebut seluruh tahta warisan Raja Airlangga. Kemenangan Jenggala mengakibatkan berpindahnya pusat pemerintahan dari Daha ke Kediri sehingga membuat nama Panjalu lebih dikenal dengan nama Kediri. Setelah berdiri hampir dua ratus tahun, Kerajaan Kediri menghadapi titik lemah setelah terjadi perselisihan antara Raja Kertajaya dan kaum Brahmana.

Kerajaan Kediri yang semula berpusat di Kahuripan, dahulunya terletak di Jawa Timur, kemudian berpindah ke Daha, dan terakhir ke Kediri. Perang saudara antara Panjalu dan Jenggala berlangsung kurang lebih 60 tahun, dan setelah kemenangan Panjalu, pusat pemerintahan dipindahkan dari Daha ke Kediri. Kerajaan Kediri berdiri pada tahun 1045 M dan runtuh pada tahun 1222 M.

Exit mobile version